Pages

Rabu, 25 Januari 2012

Manfaat Ikhlas

Tiga manfaat dari ikhlas

1. Diterimanya amal

Ikhlas tidak ada kaitannya dgn balasan dan penerimaan dari orang lain. Penerimaan di dunia nggak mempengaruhi hatinya.

Keikhlasan dapat mendorong diterimanya amal, baik oleh Allah maupun di dunia. Salah satu contoh, Imam Nawawi, menuliskan banyak buku yang mendapatkan penerimaan yang sangat luas, antara lain Arbain yang padahal sudah pernah ada yang menuliskannya sebelumnya. Konon hal ini disebabkan karena tingginya keikhlasan beliau.

Jika kita melakukan perbuatan tanpa keikhlasan, bisa jadi kita tidak mendapatkan apapun di dunia, juga tidak mendapatkan apapun di akhirat. Alangkah meruginya.

Indikasi riya antara lain kita takut dilihat dilihat orang dalam melakukan sesuatu. Jika kita ikhlas, ada ataupun tidak ada orang tidak mempengaruhi perbuatan kita.

Dalam ikhlas, hati hanya fokus kepada Allah. Segala yang selain Allah tidak dianggap, tidak ”direken”. Karena itu, keikhlasan hanya dapat ditangkap oleh hati merasakan kebesaran Allah.

Mata fisik hanya dapat menangkap yang ”paling”. Sebagai contoh, jika disandingkan antara Bajaj dan Mercedes Benz, maka mata kita akan memilih salah satu yang paling, dan biasanya adalah yang paling hebat, yaitu dalam hal ini Mercedes Benz.

Demikian juga dengan hati. Hati hanya fokus pada yang ”paling”. Jika kita belum dapat membayangkan Allahu Akbar, di hati ada orang yang kita anggap hebat selain Allah, maka tindakan kita bisa jadi akan dimaksudkan kepada orang tersebut. Kita menjadi riya kepadanya.

Jika orang ikhlas : setan gak akan menyentuhnya. Ini harus terus dijaga dengan ma'rifatullah.

Sifat ikhlas dalam banyak hal bertentangan dengan kapitalisme, yang sering diwarnai dengan sikap pamrih. Di masa sekarang, rasanya tiada tindakan tanpa motif dunia. Orang yang baik tanpa kepentingan, menjadi terasa aneh.

Dalam kerja pun, definisi kerja ikhlas harus jelas. Apa motif kita dalam bekerja? Jika kita mengatakan bahwa kerja adalah ibadah, maka kita harus ikhlas. Sudahkah kita ikhlas?

Pada budaya kerja saat ini di mana orang diharapkan menonjolkan diri, menjual diri, menunjukkan kemampuan, agar terlihat oleh atasan, dapat terjebak dan memberikan ruang untuk riya. Bahkan untuk kerja yang dilakukan atas nama dakwah.

Untuk itu, memang diperlukan kesungguhan batin yang terus menerus.

Tindakan yang tidak diikhlaskan, tidak dihargai oleh Allah SWT, bahkan bisa membawa masuk neraka.

Sebagai contoh, membaca Qur'an adalah ibadah sunnah. Jika kita tidak melakukan maka kita tidak berdosa. Tetapi jika kita melakukan dengan riya, maka kita dapat menjadi berdosa.

Maka mereka yang sudah rajin beribadah, sudah masuk ke wilayah ibadah sunnah. Pastikan kita sudah masuk ke wilayah ikhlas. Agar ibadah yang kita lakukan tidak menjadi petaka.

Apakah lalu kita lebih baik berhenti melakukan ibadah sunnah?
Tentunya tidak! Hal ini bukan dimaksudkan agar kita berhenti melakukan ibadah sunnah, akan tapi untuk memaksimalkan ibadah kita.

2. Hidup Bahagia

Ikhlas adalah karunia dari Allah. Dan mereka yang ikhlas akan memperoleh ketentraman dan ketenangan dalam hidup. Hidup menjadi tentram karena terbebas dari pamrih dan riya.

Biaya riya sesungguhnya sangat mahal. Demi gengsi dan kesan dari orang lain, kita rela menghabiskan banyak uang untuk memilih tempat makan yang bergengsi, memilih baju yang mahal.

Orang yang ikhlas memiliki fleksibilitas hidup yang tinggi. Kondisi di bawah maupun di atas tetap dapat dijalani dengan tentram.

Masalah orang di jaman sekarang : ingin disebut xxx, takut disebut xxx. Hal ini menjadikan kehidupan tidak tentram.

Orang ikhlas hidup tentram, hidup sesuai dengan kemampuannya

3. Ikhlas kepada Allah mendorong kebaikan

Salah satu sebab berhentinya orang melakukan kebaikan adalah ketika apa yang menjadi pamrihnya tidak ia peroleh. Ia berharap pada pujian, tanggapan, apresiasi orang, yang ketika tidak didapatkan, mengakibatkan kekecewaan, yang akhirnya membuatnya berhenti berbuat baik.

Jika tujuan kita hanya kepada Allah, kita akan terus berbuat baik, dan terus berbuat baik, karena kita tidak memerlukan tanggapan dari orang lain. 


Ujian Ikhlas

Dalam bahasa Indonesia, ikhlas didefinisikan sebagai rasa tulus, tanpa pamrih, tanpa mengharapkan balas jasa dan penghargaan. Biasanya dalam percakapan, sering diucapkan, "Bener nih, ikhlas ya?", dan jawabannya, "Iya bener kok, saya ikhlas."

Dalam Islam, definisi ini cukup relevan, hanya perlu sedikit tambahan. Yaitu, rasa tulus, tanpa pamrih, tanpa mengharap balas jasa dan penghargaan dari sesama manusia. Rasa bahwa kita melakukan sesuatu hanya untuk Allah, hanya mengharapkan ridha-Nya. Jika dilandasi dengan ikhlas, kita melakukan sesuatu karena yakin hal itu adalah hal yang benar, yang akan membawa kita kepada ridha Allah.

Karena itu, dalam konteks ikhlas dalam Islam, pertanyaan tadi, "Bener nih, ikhlas ya?" akan menjadi pertanyaan yang tidak perlu dijawab, karena jika kita benar-benar ikhlas, melakukan itu karena Allah, bagi kita hanya Allah yang perlu mengetahui kepastiannya.

Dengan landasan ikhlas, kita tidak memerlukan apresiasi dari siapa pun. Reaksi orang lain, baik itu memuji ataupun mencela, menyalahkan atau membenarkan, tidak mempengaruhi keberlanjutan apa yang kita lakukan.

Pujian dan apresiasi cukup dibalas dengan ucapan terima kasih, sebagai penghargaan atas kebaikan hati orang itu. Tetapi dalam hati kita, pujian itu dikembalikan kepada Allah, yang telah membimbing kita selama melakukan hal tersebut. Segala puji hanya bagi-Nya.

Kritik dan celaan diterima tidak menjadikan kita frustasi, tetapi kita anggap sebagai masukan bahwa memang masih banyak hal yang perlu diperbaiki.

Kita tidak akan pernah merasa putus asa, karena kita berorientasi pada proses, hasil akhir bukan di dunia, kita selalu masih bisa melakukan sesuatu.

Kita juga tidak akan pernah menuntut. Tidak akan ada ucapan, "Aku kan sudah buat ini, harusnya kamu begini dong". Kalaupun kita meminta seseorang melakukan sesuatu, tidak lain adalah untuk kebaikan orang itu sendiri.

Kita tidak akan pernah merasa kecewa di dunia, karena memang kita tidak mensasar suatu target. Target di dunia kita jadikan standar kualitas proses, semata-mata untuk memastikan bahwa kita telah melakukan hal yang benar secara hukum alam di dunia.

Namun, ikhlas bukan berarti pasrah dan tidak produktif. Ikhlas justru membuat seseorang ingin terus beramal, berkarya, untuk Dia yang diharapkan ridha-Nya.

Segala reaksi yang terjadi atas apa yang kita lakukan di dunia, hanya kita masukkan ke zona rasio. Jika reaksinya baik artinya kita bisa lanjutkan proses tersebut. Jika reaksinya kurang baik, maka kita cari solusi untuk perbaikan.

Segala reaksi tersebut tidak kita masukkan ke zona hati. Reaksi baik tidak menimbulkan rasa bangga, apa lagi sombong. Reaksi buruk tidak menimbulkan rasa kecewa, apa lagi frustasi dan putus asa.

Karena yang terpenting adalah jangan sampai kita kecewa di akhirat nanti. Di hari ketika segala upaya tidak bisa kita lakukan lagi. Di hari ketika segala upaya kita akan dinilai. Di hari pembuktian apakah Allah ridha dan berkenan dengan apa yang telah kita persembahkan pada-Nya selama hidup kita.

Hanya itu yang sebenarnya menjadi sasaran seluruh hidup kita. Hanya itu.



Sabar :)

 Dalam hal kesabaran dan ketakwaan, maka manusia dapat diklasifikasikan menjadi 4 kelompok.

Pertama adalah mereka yang sabar dan juga bertakwa, yaitu mereka yang ahli ibadah, dan juga kuat dan mampu untuk bersabar ketika ditimpa musibah.
Kedua adalah mereka yang bertakwa tetapi tidak bersabar, yaitu mereka yang ahli ibadah, namun tidak kuat dan tidak mampu untuk bersabar dalam musibah.
Ketiga adalah mereka yang memiliki kesabaran tetapi tidak bertakwa, yaitu orang-orang yang memiliki perilaku kurang baik, tetapi konsisten dalam ketidakbaikan tersebut.
Keempat yang terburuk adalah mereka yang tidak memiliki ketakwaan, juga tidak memiliki kesabaran.

Ada beberapa adab dalam bersabar :

Pertama, bersabar dilakukan di awal peristiwa itu terjadi.
Dikisahkan ada seorang wanita yang putranya meninggal dunia, dan wanita ini sangat bersedih, menangis tersedu-sedu di makam putranya itu. Rasulullah melewati wanita tersebut dan mengingatkan agar ia bertakwa dan bersabar. Wanita ini tanpa menoleh mengusir Rasulullah. Maka Rasulullah pun berlalu. Lalu seseorang yang melihat kejadian tersebut menyampaikan kepada wanita itu bahwa tadi yang menegur adalah Rasulullah. Wanita itu pun mendatangi Rasulullah. Rasulullah pun menjelaskan bahwa kesabaran itu pada pukulan pertama.

Kedua, mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi roji’un waktu ada musibah dan membaca doa, memohon agar diberikan pahala dalam musibah dan diberikan ganti yang lebih baik.

Ketiga, berusaha menenangkan menahan fisik dan lisan. Yaitu menahan untuk tidak memukul, membanting, merusak, serta menahan lisan agar tidak mengucapkan kata-kata yang tidak baik.

Salah satu bentuk kesabaran adalah berusaha untuk tidak menunjukkan bekas musibah.

Seperti pada kisah Ummu Sulaim, ketika anaknya meninggal dunia pada saat suaminya, Abu Thalhah sedang tidak ada di rumah. Ketika suaminya tiba di rumah dan menanyakan kabar anaknya yang memang sedang sakit, Ummu Sulaim menjawab, “Anak kita lebih tenang dari sebelumnya.” Lalu Ummu Sulaim pun melayani suaminya, menyiapkan makan, dan melakukan hubungan suami istri. Ketika kondisi sudah tenang, barulah Ummu Sulaim menyampaikan bahwa putra mereka telah meninggal.
Abu Thalhah pun marah dan melaporkan istrinya itu kepada Rasulullah. Rasulullah pun bertanya, apakah semalam Abu Thalhah berhubungan suami istri, Abu Thalhah mengiyakan, dan Rasulullah mendoakan agar hubungan itu diberkahi. Beberapa waktu kemudian ternyata Ummu Sulaim mengandung dan lahir seorang anak yang dinamai Abdullah yang kemudian memiliki banyak keturunan yang hafal Al Qu’ran.

Ada seorang sahabat juga yang tidak menunjukkan kesedihan ketika terjadi musibah, dan ketika sahabat lain bertanya tentang hal itu, ia menjawab, “Mengapa harus berlarut-larut dalam kesedihan, bukankah Allah menjanjikan 3 hal bagi mereka yang mengalami musibah lalu mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi rojiun, yaitu shalawat dari Allah, rahmat, serta termasuk dalam orang yang mendapatkan petunjuk."

Salah satu tanda seseorang mengagungkan Allah adalah ketika tidak merasa perlu mengadukan musibah kepada siapapun. Karena salah satu harta simpanan kebaikan adalah ketika dapat menyembunyikan rasa duka. Dan justru gembira ketika ada musibah, karena di sana ada pahala yang besar.

Sember : http://carik-catatan.blogspot.com

Arti Bahagia


“Orang menjalani hidup itu, jangan terpaku pada harapan, keinginan, target. Jangan.

Silakan kamu bercita-cita, tapi jangan terpaku. Jangan kemudian menutup diri, menolak yang selain cita-citamu itu.

Kenapa? Kalau kamu hanya terpaku pada harapanmu, maka selamanya kamu tidak akan merasakan kebahagiaan.

Sebab yang namanya orang bahagia, itu adalah orang yang lahir dan batinnya selalu siap menerima dan menghadapi kenyataan yang ada di depan matanya.

Bahagia bukanlah "terwujudnya harapan". Bukan. Itu tipuan nafsu. Itu semu dan sementara.

Coba kamu buktikan, ikuti kemauanmu, dan amati, dalam waktu yang tidak lama, kamu akan bosan, dan merasa sudah tidak bahagia lagi, padahal yang kamu inginkan itu masih ada dalam genggaman tanganmu.” 




Sumber : http://carik-catatan.blogspot.com