Pages

Jumat, 02 Maret 2012

Masih Haruskah Berpacaran??


Allah memberikan rizki sesuai dengan kebutuhan hambaNya dan di waktu yang menurut Allah terbaik untuk kita mendapatkannya. Jodoh adalah salah satu rizki yang Allah persiapkan untuk kita.

Allah akan memberikan jodoh pada kita di saat yang tepat. Bukan sesuai dengan keinginan kita. Seringnya kita menginginkan sesuatu hanya berdasarkan pada keinginan bukan pada kebutuhan. Allah Maha Tahu, kapan kita akan siap untuk menerima sebuah tanggung jawab besar untuk membentuk suatu peradaban kecil yang di mulai dari sebuah keluarga.

Karena menikah bukan hanya penyatuan dua insan berbeda dalam satu bahtera tanpa visi dan tujuan yang pasti, berlayar tanpa arah atau berlayar hanya menuju samudera duniawi. Menikah adalah penggenapan setengah agama karena menikah adalah sarana ibadah kepada Allah. Dalam tiap perbuatan di dalam rumah tangga dengan berdasarkan keikhlasan dan ketaqwaan maka ganjarannya adalah pahala. Tapi jika menikah hanya berdasarkan nafsu atau bahkan mengikuti perputaran kehidupan dunia, maka hasilnya pun akan sesuai dengan yang di niatkan.

Karena menikah adalah ibadah. Menikah adalah sunnah di anjurkan Rasulullah. Menimbun pahala yang terserak di dalam rumah tangga. Dan semua manusia yang normal pasti akan mendambakan suatu pernikahan. Merasakan suatu episode hidup dimana kita akan memulai segala sesuatu yang baru. Yang dahulu kita berperan sebagai seorang anak dengan berbagai kebahagiaan bermandikan kasih sayang orang tua. Maka menikah adalah suatu gerbang menuju pembelajaran menjadi orang tua kelak. Kita bukan lagi sebagai penumpang di mana mengikuti arah kehidupan yang di tentukan orang tua, melainkan kita akan menjadi driver untuk kehidupan kita sendiri kelak. Kita bisa saja mengikuti jalur yang telah di lewati orang tua, jika memang itu jalur yang tepat. Tapi jika jalur itu tak sesuai dengan arah tujuan kehidupan rumah tangga kita yaitu jalur keridhaan Allah, maka kita pun harus mencari jalur yang tepat.

Karena menikah itu adalah satu kebaikan maka seharusnya harus di mulai dengan yang baik pula. Misalnya, ketika kita ingin lulus ujian, maka kita harus belajar yang giat bukan bermalas-malasan.

Ayat Allah masih jelas tertera dalam kitabNya, bahwa pria yang baik akan mendapatkan wanita yang baik pula dan sebaliknya. Dan ayat itu masih sama dengan pada saat Allah turunkan beribu tahun yang lalu. Janji Allah pun tergambar melalui ayat itu dan Allah Maha Menepati janji. Lalu mengapa kita masih meragukan janji Allah itu??

Masih haruskah berpacaran??

Mengenal lawan jenis dengan dalih untuk mengenal pribadi masing-masing. Padahal kenyataannya, hanya sedikit kejujuran yang di tampakkan pada saat pacaran. Rasa takut yang besar untuk di tinggal pasangannya atau hendak mengambil hati pasangannya membuat mereka menyembunyikan keburukan yang terdapat dalam dirinya. Sudah menjadi rahasia umum, jika usia pacaran yang lama tak menjamin bahwa itu menjadi suatu jalan untuk memuluskan hubungan menuju jenjang pernikahan. Sudah tak menjamin adanya pernikahan setelah sekian lama menjalin masa pacaran, juga banyak di bumbui pelanggaran terhadap rambu-rambu Allah. Maksiat yang terasa nikmat.

Zaman sekarang, berpacaran sudah selayaknya menjadi pasangan suami istri. Si pria seolah menjadi hak milik wanita dan si wanita kepunyaan pribadi si pria. Mereka pun bebas melakukan apapun sesuai keinginan mereka. Yang terparah adalah sudah hilangnya rasa malu ketika melakukan hubungan suami istri dengan sang pacar yang notabene bukan mahram. Padahal pengesahan hubungan berpacaran hanya berupa ucapan yang biasa di sebut “nembak”, misalnya “I Love You, maukah kau menjadi pacarku?” dan di terima dengan ucapan “I Love You too, aku mau jadi pacarmu”. Atau sejenisnya. Hanya itu. Tanpa adanya perjanjian yang kuat (mitsaqan ghaliza) antara seorang hamba dengan Sang Pencipta. Tanpa adanya akad yang menghalalkan hubungan tersebut. Hubungan pacaran tak ada pertanggungjawaban kecuali pelanggaran terhadap aturan Allah. Karena tak ada yang namanya pacaran islami, pacaran sehat atau apalah namanya untuk melegalkan hubungan tersebut.

Kita berlelah melakukan hubungan pacaran. Melakukan apapun guna menyenangkan hati sang kekasih (yang belum halal) meskipun hati kita menolak. Jungkir balik kita mempermainkan hati. Hingga suka dan sedih karena cinta, cinta terlarang. Hati dan otak di penuhi hanya dengan masalah cinta. Kita menangis karena cinta, kita tertawa karena cinta, kita meraung-meraung di tinggal cinta, kita pun mengemis cinta. Hingga tak ada tempat untuk otak memikirkan hal positif lainnya. Tapi sayang, itu hanya cinta semu. Sesuatu yang semu adalah kesia-siaan. Kita berkorban mengatasnamakan cinta semu. Seorang pacar, hebatnya bisa menggantikan prioritas seorang anak untuk menghormati orangtua. Tak sedikit yang lebih senang berdua-duaan dengan sang pacar di banding menemani orangtua. Pacar bisa jadi lebih tau sedang dimana seorang anak di banding orang tuanya sendiri. Seseorang akan rela menyenangkan hati pacarnya untuk di belikan sesuatu yang di suka di bandingkan memberikan kejutan untuk seorang ibu yang melahirkannya. Seseorang akan lebih menurut pada perintah sang pacar di banding orang tuanya. Hubungan yang baru terjalin bisa menggantikan hubungan lahiriah dan batiniyah seorang anak dengan orangtua.

Jika pun akhirnya menikah, maka tak ada lagi sesuatu yang spesial untuk di persembahkan pada pasangannya. Sebuah rasa yang seharusnya di peruntukan untuk pasangannya karena telah di umbar sebelumnya, maka akan menjadi hal yang biasa. Tak ada lagi rasa “greget”, karena masing-masing telah mendapatkan apa yang di inginkan pada masa berpacaran. Bisa jadi, akibat mendapatkan sesuatu belum pada waktunya maka ikrar suci pernikahan bukan menjadi sesuatu yang sakral dan mudah di permainkan. Na’udzubillah.

Parahnya jika tiba-tiba hubungan pacaran itu kandas, hanya dengan sebuah kata “PUTUS” maka kebanyakan akan menjadi sebuah permusuhan. Apalagi jika di sebabkan hal yang kurang baik misalnya perselingkuhan. Kembali hati yang menanggung akibatnya. Kesedihan yang berlebihan hingga beberapa lama. Hati yang terlanjur memendam benci. Tak sedikit yang teramat merasakan patah hati dikarenakan cinta berlebihan menyebabkannya sakit secara fisik dan psikis. Juga ada beberapa kasus bunuh diri karena tak kuat menahan kesedihan akibat patah hati.

Terdengar berlebihan. Tapi itulah kenyataannya, hati adalah suatu organ yang sensitif. Bisa naik secara drastis, tak jarang bisa jatuh langsung menghantam ke bumi. Apa yang di rasakan hati akan terlihat pada sikap dan perilaku. Hati yang terpenuhi nafsu akan enggan menerima hal baik. Ada orang bilang, jangan pernah bermain dengan hati. Karena dari mata turun ke hati, kemudian tak akan turun kembali. Akan ada sebuah rasa akan mengendap di dalam hati. Jika rasa itu baik dan di tujukan pada seseorang yang halal (suami atau istri) maka kebaikan akan terpancar secara lahiriah. Bukan sebuah melankolisme yang kini merajalela.

Banyak pelajaran dari sekitar. Kenapa masih harus berpacaran??

Karena ingin ada teman yang selalu setia mendengar tiap keluh kesah?? Tak selamanya manusia bisa dengan rela mendengarkan keluhan manusia lainnya. Hanya Allah yang tak pernah berpaling untuk hambaNya. Bisa jadi secara fisik sang pacar rela mendengar dengan seksama, tapi dia juga manusia yang akan merasa bosan jika selalu di cecoki dengan berbagai keluhan.

Malu di bilang jomblo??

Jika dengan jomblo kita bisa terbebas dari rasa yang terlarang, kenapa harus malu?? justru kita akan merasa nyaman bercengkerama dengan Allah karena sadar hati kita hanya patut di tujukan kepadaNya bukan yang lain. Justru kita harus bangga, di saat yang lain berlomba untuk melakukan hal terlarang tapi kita menjauhinya. Kemudian tak akan ada perasaan was was karena telah melanggar aturan Allah. Kita bebas berkumpul dengan kawan-kawan tanpa ada kekangan dari orang yang sesungguhnya tak memiliki kewenangan terhadap diri kita.

Mungkin masih banyak lagi kesia-siaan dalam berpacaran. Dan sesungguhnya belum tentu sang pacar akan menjadi pasangan kita kelak.

Pacaran ibarat minuman beralkohol, banyak yang mengelak bahwa dengan berpacaran mereka memiliki semangat baru dan sederet hal positif yang mereka kumandangkan. Tapi sama halnya dengan alkohol, maka manfaat yang di dapat jauh lebih kecil di banding kemudharatan yang di hasilkan. Karena segala sesuatu yang di larang Allah, pasti ada sebab dan manfaatnya.

Kemudian ada yang berdalih, toh pacaran itu tidak merugikan orang lain. Tidak merugikan orang lain, namun hukum Allah jauh lebih baik untuk di ikuti ketimbang menurutkan hawa nafsu yang berakhir pada jurang kebinasaan.

Kembali ke pernikahan, suatu kebaikan maka tak pantas jika di awali dengan keburukan. Allah tak akan ingkar janji, karena jodoh telah Allah tetapkan di Lauh Mahfuzh. Tinggal kita melakukan usaha yang baik, yang Allah ridhai. Supaya tiap langkah kita, hanya berisi keridhaan Allah dan mendapat keberkahanNya. Aamiin.

(hanya sebuah catatan hati guna pengingat diri dan saudara seimanku)

Allahua’lam




Sumber: http://www.dakwatuna.com

Ini Dia Keutamaan Jilbab


Sesungguhnya seorang wanita muslimah akan menemukan dalam hukum Islam perhatian yang sangat tinggi terhadap dirinya, agar dapat menjaga kesuciannya, menjadi wanita mulia dan memiliki kedudukan yang tinggi. Dan syarat-syarat yang diwajibkan pada pakaian dan perhiasannya tidak lain adalah untuk mencegah kerusakan yang timbul akibat tabarruj (berhias diri). Inipun bukan untuk mengekang kebebasannya akan tetapi sebagai pelindung baginya agar tidak tergelincir pada lumpur kehinaan atau menjadi sorotan mata.
Hijab Simbol Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya

Allah SWT telah mewajibkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya berdasarkan firman Allah SWT:
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak pula bagi perempuan yang mu’minah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab: 36)
Allah SWT juga memerintahkan kaum wanita untuk menggunakan hijab sebagaimana firman Allah SWT:
“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluan-nya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Q.S An-Nur: 31)
Allah SWT berfirman:
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah.” (Q.S. Al-Ahzab: 33)
Allah SWT berfirman:
“Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 53)
Allah SWT berfirman:

“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)
Rasulullah SAW bersabda: “Wanita itu aurat” maksudnya adalah bahwa ia harus menutupi tubuhnya.

Hijab itu ‘iffah

Allah SWT menjadikan kewajiban menggunakan hijab sebagai tanda ‘Iffah (menahan diri dari maksiat).
Allah SWT berfirman:
“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)
Itu karena mereka menutupi tubuh mereka untuk menghindari dan menahan diri dari perbuatan jelek (dosa), “karena itu mereka tidak diganggu”. Maka orang-orang fasik tidak akan mengganggu mereka. Dan pada firman Allah “karena itu mereka tidak diganggu” sebagai isyarat bahwa mengetahui keindahan tubuh wanita adalah suatu bentuk gangguan berupa fitnah dan kejahatan bagi mereka.

Hijab itu kesucian

Allah SWT berfirman:
“Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 53)
Allah SWT menyifati hijab sebagai kesucian bagi hati orang-orang mu’min, laki-laki maupun perempuan. Karena mata bila tidak melihat maka hatipun tidak berhasrat. Pada saat seperti ini, maka hati yang tidak melihat akan lebih suci. Ketiadaan fitnah pada saat itu lebih nampak, karena hijab itu menghancurkan keinginan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya, Allah SWT berfirman:
“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.” (Q.S. Al-Ahzab: 32)

Hijab itu pelindung

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah itu Malu dan Melindungi serta Menyukai rasa malu dan perlindungan”
Sabda beliau yang lain:
“Siapa saja di antara wanita yang melepaskan pakaiannya di selain rumahnya, maka Allah Azza wa Jalla telah mengoyak perlindungan rumah itu dari padanya.”
Jadi balasannya setimpal dengan perbuatannya.

Hijab itu taqwa

Allah SWT berfirman:

“Hai anak Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik.” (Q.S. Al-A’raaf: 26)

· Hijab itu iman

Allah SWT tidak berfirman kecuali kepada wanita-wanita beriman: “Dan katakanlah kepada wanita yang beriman.” (Q.S. An-Nur: 31). Allah SWT juga berfirman: “Dan istri-istri orang beriman.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)
Dan ketika wanita-wanita dari Bani Tamim menemui Ummul Mu’minin, Aisyah ra dengan pakaian tipis, beliau berkata: “Jika kalian wanita-wanita beriman, maka (ketahuilah) bahwa ini bukanlah pakaian wanita-wanita beriman, dan jika kalian bukan wanita beriman, maka silahkan nikmati pakaian itu.”

· Hijab itu haya’ (rasa malu)

Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.”
Sabda beliau yang lain:
“Malu itu adalah bagian dari iman dan iman itu di surga.”
Sabda Rasul yang lain:

“Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lainpun akan terangkat.”

· Hijab itu ghirah (perasaan cemburu)

Hijab itu selaras dengan perasaan cemburu yang merupakan fitrah seorang laki-laki sempurna yang tidak senang dengan pandangan-pandangan khianat yang tertuju kepada istri dan anak wanitanya. Berapa banyak peperangan terjadi pada masa Jahiliyah dan masa Islam akibat cemburu atas seorang wanita dan untuk menjaga kehormatannya. Ali bin Abi Thalib ra berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa wanita-wanita kalian berdesak-desakan dengan laki-laki kafir orang ‘ajam (non Arab) di pasar-pasar, tidakkah kalian merasa cemburu? Sesungguhnya tidak ada kebaikan pada seseorang yang tidak memiliki perasaan cemburu.”



Sumber:http://makalah-artikel.blogspot.com

Kamis, 01 Maret 2012

Islam Berbicara Tentang Aurat


Ikhwan dan Akhwat yang senantiasa dirahmati Allah, membicarakan soal aurat, rasanya nggak akan habis di zaman yang katanya modern seperti sekarang ini. Di zaman yang teknologi dan segala sesuatu yang berbau mesin, masalah aurat sepertinya telah diabaikan begitu saja. Dunia udah kebalik, yang cewek dandan kayak cowok alias tomboy, yang cowok juga nggak mau kalah, seenak udelnya sendiri nancepin anting – anting di telinganya, katanya supaya keren. Tapi coba apanya yang keren?

Sebelum membahas lebih jauh lagi, nggak ada salahnya kalau kita tahu , apa itu aurat? Nah lo jangan – jangan malah belum pada ngerti. Aurat adalah bagian tubuh yang perlu dan harus ditutup. Menurut ajaran islam, bagian yang ditutup itu jelas batas – batasnya. Buat kamu yang cowok adalah mulai pusat sampai lutut. Nah kalau yang cewek adalah seluruh anggota tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Hayoo…aurat kamu sudah ketutup apa belum? Ngomong – ngomong soal menutup aurat, tentu saja nggak lepas dari pakaian yang tentu saja punya fungsi sebagai penutup aurat tersebut.

Islam Memandang Pakaian

Pada awalnya, pakaian hanya berfungsi sebagai penutup tubuh, melindungi diri dari cuaca, angin dan sinar matahari. Dalam perkembangannya, pakaian tak lagi sekadar pembungkus tubuh, melainkan lebih sebagai fashion alias gaya hidup. Pakaian dalam islam tidak sekedar memenuhi aspek kepantasan menurut manusia yang bersifat nisbi, tapi jga kepantasan dalam pandangan islam yang akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah. Kepantasan menurut islam dalam berpakaian adalah menutup aurat. Karena aurat bukan untuk dipertontonkan dan diperlihatkan kepada orang lain yang bukan haknya, tapi harus dijaga dari berbagai pandangan yang mengarahkn pada datangnya fitnah

Firman Allah swt dalam Al Qur’an Surat Al A’raf ayat 26 bisa dijadikan referensi untuk introspeksi diri.

“Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda – tanda kekuasaan Allah,semoga mereka selalu ingat”. (QS. Al A’raf : 26)

Dari ayat tersebut telah dijelaskan tentang dua fungsi pakaian yakni untuk menutup aurat dan sebagai perhiasan. Fungsi yang paling utama adalah untuk menutup aurat. Selain ayat tersebut masih banyak lagi ayat yang menjelaskan tentang pakaian, seperti QS. An Nahl : 81, QS An Nur : 31, QS Al Ahzab :59.

Islam memberikan batasan minimal yang nggak boleh dilanggar baik oleh laki – laki maupun wanita ketika berpakaian. Nabi saw bersabda mengenai aurat laki – laki.

“Tidak halal bagi laki – laki membuka bagian tubuh yang ini, antara pusat hingga lutut, kecuali di hadapan istrinya”. (HR. Daruquthni dan Baihaqi)

Karena aurat laki – laki hanya antara pusat dan lutut, maka pakaiannya pun lebih sederhana dibanding dengan pakaian wanita. Wanita harus menutupi sekujur tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan hingga pergelangan. Demikianlah fungsi pakaian sebagai penutup aurat. Namun baik tidaknya berpakaian yang mencerminkan kesopanan dan perilaku seorang muslim itu menggunakan parameter Al Qur’an dan Sunnah Rasullullah saw. Menutup aurat ini hukumnya wajib, so bagi yang nggak melaksanakannya akan ketiban dosa yang imbalannya adalah azab. Na’uzubillah mindzalik.

Alasan mengapa wanita enggan menutup aurat

Masalah aurat, kita tentu saja lebih cenderung berbicara tentang akhwat alias cewek. Why? Because aurat wanita dan permasalahannya itu lebih komplek. Kok bisa? Iya dong, soalnya di zaman sekarang yang nota bene ada sebutan tentang emansipasi wanita, dimanfaatkan oleh oknum – oknum yang nggak “sadar dosa”. Mereka menjadikan wanita sebagai subyek sekaligus obyek kepentingan komersial. Di TV, Media cetak, bahkan internet, tubuh wanita diekspos begitu saja tanpa rasa malu. Di toko – toko pakaian yang saat ini sudah bejibun di mana – mana, di pajang di etalase toko model “u can see”, tank top, dan aneka model lainnya yang nyata – nyata membuka aurat. Namun pada kenyataannya model yang seperti itu justru yang dikejar para cewek termasuk yang masih bertitel remaja, katanya biar dicap “gaul”.

10 alasan yang biasanya dijadikan dalih mengapa wanita enggan berjilbab :

* Mereka mengatakan bahwa mereka tidak memakai jilbab karena sama sekali tidak sudi dengan pakaian itu. Mereka menganggap jilbab dan hijab itu sesuatu yang kuno dan ketinggalan zaman. Alasannya sekarang sudah ada model pakaian yang dianggap lebih gaul dan funky. Mereka menolak berjilbab karena mengejar kesenangan dan hawa nafsu, sehingga berani mencampakkan ayat – ayat Allah. Wanita muslimah yang taat menjalankan ibadah dan telah berbuat baik dapat dianggap beriman. Tapi mereka tidak mengenakan jilbab, ia bukan termasuk sami’na wa atha’na. Mereka hanya mendengar tetapi tidak taat. Tentu keimanannya akan berkurang atau mungkin Allah sama sekali menolaknya.

* Karena dilarang orang tua. Karena alasan tidak mau durhaka, maka para wanita rela menanggalkan jilbabnya. Kedudukan orang tua memang mendapat posisi tinggi dan terhormat. Mematuhi orang tua tidak ada batasnya kecuali satu perkara, yaitu jika mereka menyeru maksiat kepada Allah swt, ini tidak boleh dipatuhi.

* Mereka mengatakan bahwa mereka tidak mampu membeli pakaian yang memerlukan lebih banyak kain. Ada dua kemungkinan dari alasan ini yaitu bahwa mereka benar – banar miskin atau bahwa mereka itu adalah pembohong yang lebih suka mengenakan pakaian “bugil” yang mengekspos lekuk tubuh mereka atau supaya pahanya pahanya yang mulus bisa dilihat orang. Jadi sebenarnya alasan ini kurang masuk akal. Di zaman sekarang, baju “bugil” biasanya justru lebih mahal disbanding busana muslimah.

* Ada wanita yang beralasan bahwa mengenakan jilbab itu panas dan gerah. Barangkali mereka yang berkata seperti itu tidak menyadari tentang panasnya api neraka. Sedangkan menanggalkan jilbab berarti melanggar perintah Allah, dan ancamnnya adalah api neraka.

* Alasan kelima adalah mereka takut mengenakan jilbab tetapi tidak istiqomah. Seandainya saja setiap orang berpikir seperti itu, bisa – bisa merek meninggalkan ajaran agama secara keseluruhan karena takut tidak istiqomah. Mengapa kita tidak meneliti bagaimana cara mendapatkan hidayah dari allah sehingga kita dapat beristiqomah dalam mengenakan jilbab. Jalan untuk memperoleh hidayah adalah dengan berdoa dan menjalankan syariat dengan tekun. Jika dengan sungguh – sungguh seseorang melaksanakan hal – hal yang dapat mendatangkan hidayah, kemudian meresakan nikmatnya iman, pasti dia tidak akan meninggalkan jilbab setelah menekuninya.

* Alasan yang lain adalah karena mereka takut tak laku kawin. Para remaja putrid lebih suka berpakaian dengan model ketat atau yang mini, atau bahkan agak porno. Cara – cara ini dilakukan agar mereka cepat laku. Alasan ini merupakan suatu kebodohan. Perkawinan adalah tujuan suci. Tujuan suci tidak boleh dimulai dengan sesuatu yang kotor dan keji. Jika awalnya keji, maka akhirnya akan hina. Perlu diketahui bahwa laki – laki yang baik adalah untuk perempuan yang baik, begitu pun sebaliknya.

* Mereka berdalih bahwa mereka enggan menutup aurat karena ingin menghargai kenikmatan yang dianugerahkan oleh Allah. Mereka seolah – olah berikrar sebagai orang yang bersyukur atas nikmat Allah yang diberikan kepadanya. Tubuh yang indah, kecantikan, merupakan karunia dari Allah yang harus dihargai. Menurut mereka cara menghargainya adalah dengan memperlihatkan kepada setiap orang akan keindahan tubuhnya itu. Sungguh sangat keterlaluan! Jika mereka benar – benar bersyukur, maka mereka kan menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah yakni enutup aurat, bukan mengumbarnya.

* Sementara ada pula yang beralasan bahwa mereka belum mendapatkan hidayah dari Allah. Agaknya mereka belum memahami tentang makna hidayah. Seseorang bisa mendapatkan hidayah jika ia melakukan sesuatu yang menjadi penyebab datangnya hidayah. Cara mendapatkan hidayah dari Allah adalah dengan mematuhi perintahNya.

* Sebagian ada yang berkata bahwa mereka belum waktunya mengenakan pakaian penutup aurat. Alasan untuk mengulur – ulur waktu hanyalah sebuah dalil pembenaran saja. Apakah kita tahu berapa lama lagi kita hidup?

* Ada juga wanita muslimah yang mengemukakan alasan mengapa mereka tidak mengenakan jilbab yakni mereka tidak mau dipandang sebagai penganut aliran tertentu. Anggapan ini karena dangkalnya pemahaman islam atau anggapan yang dibuat – buat supaya tidak dituduh melanggar syariat. Islam itu agama yang global dalam artin ajarannya tidak diperuntukkan untuk golongan tertentu saja tetapi seluruh umat islam yang ada di bumi. Tidak membedaikan ada di belahan bumi mana.

Dalil tentang perintah berjilbab

Setelah islam datang, hukum syariat pun turun brturut – turut, termasuk hukum untuk wanita muslimah dalam menjaga auratnya.

QS Al Ahzab :59

“Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri – isterimu, anak – anak perempuanmu dan isteri – isteri orang mukmin, Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal dan tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

QS An Nur :31

“Katakanlah kepada wanita – wanita yang beriman “Hendaknya mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. Hendaklah mereka memakai jilbab sampai ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami atau ayah dari suami mereka, atau putera – putera mereka, atau putera – putera suami mereka, atau putera – putera saudara laki – laki mereka, atau putera – putera saudara perempuan mereka, atau sesame wanita Islam, atau budak – budak yang mereka miliki, atau pelayan laki – laki yang tidak memiliki syahwat atau anak – anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang – orang yang beriman agar kamu mendapatkan keberuntungan”.

Al Hadits:

“Dan wanita – wanita yang berpakaian tetapi telanjang yang menyimpang dan membawa kepada penyimpangan, kepala mereka seperti punuk – punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk syurga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau syurga itu dapat dirasakan dari jarak yng sangat jauh”.

Serta dalil – dalil yang lain yang menjelaskan hal – hal serupa. Oleh karena itu sebagai muslimah haruslah menjalankan perintah Allah untuk menutup aurat. Perlu ditekankan bahwa seorang wanita muslimah tidak diperkenankan keluar rumah tanpa jilbab. Apa pun alasannya. Ia baru boleh keluar rumah ketika telah sempurna pakaiannya. Sempurna yang dimaksudkan adalah tertutup auratnya dan tidak berhias secara menyolok dan tidak merangsang laki – laki dalam berpenampilan.

Islam tidak hanya membicarakan tentang rukun islam sajaa seperti shalat dan puasa. Tetapi syariatnya luas, mencakup seluruh kehidupan umat penganutnya. Karena itu sangat perlu bagi wanita muslimah untuk mempelajari syariat – syariat hijab, yaitu sejauh mana diwajibkan menutup aurat. Apalagi bagi remaja, penting banget tuh. Supaya kedepannya lebih baik. Mempelajari tentang hijab ini tidak terbatas untuk cewek aja, cowok juga. Bukannya yang cowok juga pengen dapet akhwat yang solehah? Oleh karena itu , bagi para cewek yang keluar rumah, tutuplah aurat untuk mendapat keridlaan Allah dan merendahkan setan. Bila seorang wanita memang benar dan berniat jujur serta tulus kemauan, maka InsyaAllah seribu orang baik akan membantu dan sesungguhnya Allah memudahkan urusan. Wallahu a’lam bishowab. Referensi:

1.DR. Huwaida Ismail, Siapa Melarangmu Berjibab,

2. Thobieb Al Asyhar, Sufi Funky

3. Asri Supatmiati, The World of Me

4. Ust. Labib Mz, Problematika Wanita Masa Kini


Sumber : http://turasih.blogspot.com/

Senin, 06 Februari 2012

Jilbab Syar'i, Jangan Takut Dicap Fanatik


Potret 1:
Dalam acara kumpul keluarga besar, di malam hari menjelang tidur, Ney tetap mengenakan jilbabnya, bahkan tetap berpakaian rapi tanpa mengurangi apapun yang melekat pada dirinya. Di sisi lain, saudara-saudaranya, tantenya, budenya, atau kakak adiknya yang juga memakai jilbab telah membuka jilbabnya dan memakai pakaian siap tidur.

“Kenapa pas mau tidur jilbabnya nggak dibuka, kan disini saudara semua?”
Saudara, tapi kan belum tentu mahram.

Atau pertanyaan lain “Nak, kamu kenapa tetap pakai kaos kaki sih kalau di rumah saudara?”
Hmmm ...

“Hati-hati jangan terlalu fanatik belajar agamanya Mbak”

Potret 2:
Setiap ada tamu mendadak di rumah, atau ketika Ibu meminta bantuan beli sesuatu di warung, maka Ney selalu butuh waktu sejenak, untuk memakai rok panjang, jaket, kerudung kaos, dan kaos kaki. Seperti berlebihan, karena biasanya Ibu hanya menyambar jilbab ketika ke warung, atau bahkan lupa memakai jilbab ketika menyapu di halaman rumah.

Perkataan Ney ke Ibunya, “Bu, kalau ke depan rumah dipakai jilbabnya.”
“Kan ke depan aja, ga ada siapa-siapa kok.”
“Itu Bu, ada tetangga yang Bapak-bapak.”
“Ah, ga apa-apa itu mah. Beliau juga ga akan ngapa-ngapan.”

Sesekali Ibu Ney yang balik bertanya ketika Ney bersiap merapikan seluruh pakaiannya sebelum pergi, “Ke warung aja ngapain pake kaos kaki sih?”
“Kaki kan juga aurat Bu.”
“Aiih, warung kan deket, yang liat juga ga banyak”

Potret 3:
Saat acara pernikahan saudara, Ney mendapat peran sebagai penerima tamu. Seperti orang-orang lain yang bertugas, Ney juga dibantu oleh seorang perias dalam mengenakan pakaian dan jilbabnya. Berbagai assesoris disiapkan, agar jilbab yang dikenakan tetap terlihat modis dan baju yang dikenakan pun terlihat hiasannya.

“Tante, ini jilbabya saya pakai sendiri ya, nanti tante yang hias bagian atasnya saja,”
pinta Ney sebelum tante perias memakaikan jilbab yang pastinya akan tercekik di bagian leher.
“Oh silahkan mba.. Eh ini kenapa dilapisin jilbabnya?”
“Ini kan tipis jilbabnya tante, saya pakainya panjang menutup dada.”
“Oh, kalau sampai menutup dada sayang nanti hiasan di baju bagian atasnya ga kelihatan”
“Gak papa tante, saya biasa pakai begini...”

Tante perias jilbab pun masih berusaha merapikan jilbab yang telah dikenakan Ney seperti biasa tanpa hiasan. Beruntung Ney telah mempersiapkan jilbab lapis sendiri, jilbab lain untuk hiasan dan perlengkapan lainnya sehingga tante perias tidak banyak protes saat Ney meminta jilbabnya tetap terulur hingga ke dada.

Masih banyak potret-potret yang lainnya yang kadang memiliki berbagai pandangan dari orang-orang sekitar. Ketika seorang muslimah yang berhijab ingin sempurna menutup auratnya, ingin menyeluruh menjalankan ajaran agamanya, tetapi justru dianggap fanatik. Hal tersebut terjadi karena pemahaman setiap orang atas ajaran agama ini belum menyeluruh, sehingga pola pikir yang ditimbulkan pun berbeda.

Padahal setiap aturan islam terangkum jelas, baik dalam Al-Qur’an maupuh hadis. Selain itu buku-buku Islam yang membahas aturan islam secara spesifik pun mudah didapatkan di toko-toko buku. Namun sayangnya, berbagai pengetahuan itu kalah populer dengan perkembangan mode dan budaya yang ada saat ini, sehingga masyarakat melihat yang benar adalah yang kebanyakan terlihat di masyarakat, dan yang sedikit itu masuk dalam kategori fanatik atau berlebihan dalam menjalankan ajaran agama.

Fanatik lebih dekat konotasinya dengan hal yang negatif, sedangkan kaafah atau menyeluruh diperintahkan oleh Allah melalui Al-Qur’an yang pasti bermakna positif.
"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh," (QS. Al-Baqarah: 208).

Pada awal masa peredarannya di Indonesia, jilbab benar-benar berfungsi sebagai penutup aurat. Bentuknya sederhana dan penggunanya pun masih sedikit karena pada masa itu pelarangan jilbab masih terjadi di Indonesia. Jika kita tengok pada masa itu, maka jilbab yang banyak dikenakan adalah jilbab yang sesuai syariat, menutup dada, tidak transparan karena kainnya tebal, dan tidak beragam bentuknya.

Jilbab pada masa itu bukan ada karena perkembangan trend dalam berbusana, tapi jilbab pada masa itu adalah simbol perjuangan. Setelah jilbab dibebaskan penggunaannya, muslimah yang berjilbab pun semakin bertambah jumlahnya. Tak ada lagi kekhawatiran mereka tentang diskriminasi yang ada, karena jilbab telah diterima dengan baik.

Hal tersebut memberi peluang berbagai pihak untuk menggunakan kreatifitasnya, sehingga model jilbab pun semakin banyak. Saat ini berbagai model hadir untuk memenuhi kebutuhan muslimah tetapi sayangnya tidak semua trend jilbab yang ada sesuai dengan syariat Islam. Selain itu, banyak juga jilbab yang hanya digunakan sebagai busana sehingga hanya dikenakan saat berpergian jauh, saat acara-acara penting, atau saat pengajian.

Sementara saat di rumah, ke warung, atau mengantar anak ke sekolah, dengan santainya tak memakai penutup aurat itu. Seakan jilbab mengalami pergeseran makna, dari kewajiban sebagai penutup aurat menjadi busana agar terlihat semakin menarik. Setelah trend jilbab gaul marak, maka jilbab-jilbab syar’i yang cenderung lebih konservatif pun dianggap moderat. Jilbab panjang cenderung dianggap tidak modis dan identik dengan fanatisme.

Pertama, sebenarnya simpel, bahwa tujuan menutup aurat adalah menghindari terlihatnya bagian tubuh secara langsung ataupun tidak langsung. Maka, menutup aurat dengan jilbab adalah dengan kain yang tidak transparan, kain yang menutup hingga ke dada, dan tentunya tidak ketat agar tak terlihat bentuk tubuhnya. Simpel, tapi terkadang yang sesimpel itu belum terinternalisasi pada seluruh muslimah.

Kedua, Esensi menutup aurat adalah menutupnya dari orang-orang yang tidak termasuk dalam mahram. Tidak semua saudara laki-laki dalam keluarga besar termasuk mahram, misalnya ipar atau saudara sepupu. Orang-orang yang termasuk mahram tercantum dalam Qur’an Surat An-Nur:31. Jadi kepada orang-orang selain mahram tersebut, kita sebagai muslimah wajib menutup aurat.

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung," (QS. An-Nur:31).

Ketiga, tentang jilbab adalah tentang kewajiban yang sudah tidak bisa ditawar, maka menjaganya adalah menjaga kehormatan dan izzah sebagai seorang muslimah. Maka, ketika persoalan jilbab harus disandingkan dengan persoalan lain seperti pekerjaan, penampilan, atau eksistensi diri, jilbab harus tetap menjadi perhatian utama. Bagaimanapun kondisinya, usahakan jilbab syar’i tetap melekat pada diri kita.

Saat ini, model jilbab yang syar’i tapi tetap modis juga telah banyak beredar sehingga tak perlu khawatir ketika harus tetap tampil syar’i saat acara-acara pernikahan atau acara penting lainnya. Bahkan ketika di luar negeri yang memiliki musim panas, jilbab syar’i tetap dipertahankan oleh muslimah yang ingin kaafah menjalankan ajaran agamanya.
“Jagalah Allah, niscaya dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatinya bersamamu,” (HR. Tirmidzi).

Di luar respon negatif seperti pada potret-potret sebelumnya, masih ada respon positif dari mereka yang jujur dengan ajaran agamaNya. Respon positif ini tak lepas dari benih-benih pemahaman yang telah ditanamkan sebelumnya.

Potret 4
Saat menjahit baju untuk sebuah acara pernikahan saudara, Ney tetap berusaha agar kebaya yang ia kenakan tidak seperti kebaya pada umumnya yang dibuat pas dengan ukuran tubuh. Maka ia sangat berpesan pada Ibu penjahit untuk melebarkan ukuran bajunya.

“Bu, ini jahitnya jangan ngepas badan ya, tolong dilebihkan di bagian pinggangnya.”, pinta Ney pada seorang penjahit yang sedang mengukur badannya.
“Ooh gitu ya Mba, tapi kalau kebaya kurang bagus kalau lebar,” jawab Ibu penjahit.
“Yang penting ga ngebentuk badan Bu, jadi dilebihin saja di sampingnya. Untuk panjang ke bawah dibuat sampai lutut juga Bu..." tutur Ney.
“Iya ini Bu, dia ga mau pakai baju yang ngepas-ngepas. Sukanya yang lebar," tambah Ibunda Ney.
“Iya, sih Bu, harusnya yang benar memang begitu kan. Dididik bagaimana sih Bu, ini anaknya bisa salihah begini ...”

Ya, penjahit itu jujur bahwa sejatinya pakaian yang sesuai syariat tidak ketat dan tidak memperlihatkan lekukan badan. Walau biasanya ia menjahit sesuai dengan ukuran badan yang pas agar terlihat cantik, tapi ia tetap mengakui bahwa di luar kecantikan itu ada hal yang lebih tinggi, aturan syariat agama.

Bukan, yang kita cari memang bukan respon atau tanggapan dari orang-orang sekitar kita. Karena pandangan manusia tak ada artinya dibandingkan pandangan Allah. Namun, tentunya menjadi tugas kita untuk mengajarkan kebaikan pada orang-orang di sekitar kita, agar pemahaman mereka tentang agama ini tidak setengah-setengah. Agar setiap muslimah di sekitar kita mengerti bagaimana cara menjaga auratnya dengan sempurna dan dapat menjaga izzahnya dimanapun mereka berada.

Muslimah salehah, jangan takut dianggap fanatik, jika kita yakin bahwa yang kita jalani adalah hal yang benar. Muslimah cerdas harus mengambil langkah yang tepat saat dianggap berlebihan dalam menjalani ajaran agama, bukan dengan meninggalkan prinsipnya atau bahkan merasa malu atau minder saat dianggap minoritas, tetapi siap menebarkan benih-benih pemahaman yang sebenarnya dengan cara yang tepat.

Ketika kita meyakini sesuatu hal, maka kita akan memegangnya dengan sunguh-sungguh dan pastikan saja hal yang kita pegang saat ini sesuai dengan dua pedoman utama agama kita, yaitu Al-Qur’an dan Hadis.

*** Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia. Saat ini sedang menjalankan amanah sebagai Ketua Bidang I SALAM UI.


Sumber : http://www.eramuslim.com/

Kamis, 02 Februari 2012

Dampak Lain Dari Depresi


Ada beberapa tulisan Dr. Edward Bodowlski dalam bukunya, Leave Worrying and Seek Betterment, yang diterjemahkan untuk saya. Berikut beberapa judul bab dalam buku tersebut.

* Apa Dampak Kesedihan Terhadap Jantung

* Tekanan Darah Tinggi Disebabkan Oleh Kesedihan

* Kesedihan Bisa Mengakibatkan Rematik

* Kurangi Kesedihanmu Demi Pencernaanmu

* Bagaimana Kesedihan Bisa Mengakibatkan Salesma

* Rasa Sedih dan Kelenjar Gondok

* Korban Penyakit Gula dan Kesedihan

Dr. Karl Maninger adalah seorang spesialis penyakit jiwa dari Mayo, yang menulis buku berjudul Man Againts Himself, dalam edisi terjemahannya, dikatakan: "Buku Dr. Maninger tidak akan memberikan kaidah-kaidah tentang bagaimana menghindari depresi. Tapi buku tersebut hanya akan memberikan laporan tentang bagaimana kita sendiri bisa menghancurkan tubuh dan otak kita dengan kegelisahan, frustasi, kedengkian, dendam, pemberontakan dan rasa takut."

Ketenangan hati, keteduhan perasaan, kelapangan dada, dan kebahagiaan adalah salah satu manfaat terbesar dari firman Allah:
{Dan, orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang.} [QS. Ali-Imron:134)

Montaigne, penguasa dan filosof kota Bodeaux, Perancis, mengatakan, "Saya ingin membantu memecahkan permasalahan kalian dengan tangan saya, bukan dengan hati dan paru-paru saya."


Sumber : La Tahzan Book "Don't Be Sad"

Rabu, 01 Februari 2012

Sebaik-baik Teman Duduk Adalah Buku


Diantara sebab kebahagiaan adalah meluangkan waktu untuk mengkaji, menyempatkan diri untuk membaca, dan mengembangkan kekuatan otak dengan hikmah-hikmah.

Al-Jahizh menasehatkan untuk senantiasa membaca dan mengkaji agar anda bisa mengusir kesedihan. Katanya, ''Buku adalah teman duduk yang tidak akan memujimu dengan berlebihan, sahabat yang tidak akan menipumu, dan teman yang tidak membuatmu bosan. Dia adalah teman yang sangat toleran yang tidak akan mengusirmu. Dia adalah tetangga yang tidak akan menyakitimu. Dia adalah teman yang tidak akan memaksamu mengeluarkan apa yang anda miliki. Dia tidak akan memperlakukanmu dengan tipu daya, tidak akan menipumu dengan kemunafikan, dan tidak akan membuat kebohongan.''

Buku adalah sesuatu yang jika anda pandang maka akan memberikan kenikmatan yang panjang, dia akan menajamkan kemampuan intelektual, membuat lidah tidak kelu, dan membuat ujung jemari semakin indah. Dia akan memperkaya ungkapan-ungkapan anda, akan menenangkan jiwa, dan akan mengisi dada. Buku akan memberikan 'penghormatan orang-orang awam dan persahabatan dengan raja-raja', kepada anda. Dengannya anda akan mengetahui sesuatu hanya dalam sebulan. Satu hal yang tidak bisa anda dapatkan dari mulut orang selama satu masa. Dengannya, anda juga bisa menghindarkan hutang dan kesusahan mencari rezeki. Dengan buku, anda tidak harus bersusah-susah menghadap seorang pengajar yang mencari makan dari honor mengajar, tidak harus belajar dari orang yang secara akhlak lebih rendah dari anda, dan tidak harus duduk bersama orang-orang yang hatinya penuh kedengkian dan orang-orang yang kaya.

Buku adalah sesuatu yang senantiasa taat baik di siang hari maupun di malam hari. Dia akan ikut saja baik dalam perjalanan maupun ketika berada di rumah. Dia tidak pernah mengantuk, dan tidak akan terkena kelelahan malam. Dia adalah guru yang jika anda membutuhkannya, maka dia tidak akan merasa malu. Dan jika anda meninggalkannya untuk ganti materi, maka dia tidak akan memutuskan faedahnya. Walaupun anda meninggalkannya, dia akan selalu taat. Walaupun ada angin yang menyerang anda, maka dia tidak akan berpaling. Kesendirian anda tidak akan membahayakan selama anda selalu bersamanya, dan tidak akan memaksa anda untuk duduk bersama orang-orang yang jelek perangainya. Meskipun tidak ada keutamaan yang bisa anda ambil, namun ia sudah menghalangi niat anda untuk duduk di depan pintu rumah, dan melihat orang-orang yang lalu lalang di depan rumah. Sebab hal tersebut: melanggar hak-hak orang lain, menzalimi diri kita dengan cara melihat orang lain secara berlebihan, ada keterlibatan diri kita dalam sesuatu yang tidak berguna, ada pembauran dengan orang-orang yang tidak berguna, ada kesempatan untuk mendengarkan langsung ucapan-ucapan mereka yang kotor, yang tidak bernilai, yang rendah budinya dan yang tidak cerdas.

Semua ini akan menghindarkan anda dari segala kemungkinan buruk, dan menghadapkan pada manfaat yang besar. Anda berhasil mendapatkan pokok sekaligus cabangnya. Seandainya yang anda dapat darinya tak lebih dari kegiatatan yang menghalangi niat anda dari keinginan yang murahan, dari keinginan untuk bersenang-senang saja, dan dari main-main yang tidak berarti, maka itu sudah merupakan nikmat yang besar dan karunia yang agung.

Kita sadar bahwa buku adalah pilihan terbaik bagi orang-orang yang kosong untuk menghabiskan waktu siangnya, dan bagi orang-orang yang suka bersenang-senang untuk menghabiskan malam-malam mereka. Buku adalah sesuatu yang tanpa mereka sadari; memberikan dorongan untuk mencoba, menggunakan nalarnya, membentuk kepribadiannya, menjaga kehormatan mereka, dan mengembangkan harta mereka.


Sumber : La Tahzan Book "Don't Be Sad"

Inilah Kiat-Kiat Untuk Bahagia


1. Sadarilah bahwa jika Anda tidak hidup hanya dalam batasan hari ini saja, maka akan terpecahlah pikiran Anda, akan kacau semua urusan, dan akan semakin menggunung kesedihan dan kegundahan diri Anda. Inilah makna sabda Rasulullah: “Jika pagi tiba, janganlah menunggu sore; dan jika sore tiba, janganlah menunggu hingga waktu pagi.”
2. Lupakan masa lalu dan semua yang pernah terjadi, karena perhatian yang terpaku pada yang telah lewat dan selesai merupakan kebodohan dan kegilaan.
3. Jangan menyibukkan diri dengan masa depan, sebab ia masih berada di alam gaib. Jangan pikirkan hingga ia datang dengan sendirinya.
4. Jangan mudah terguncang oleh kritikan. Jadilah orang yang teguh pendirian, dan sadarilah bahwa kritikan itu akan mengangkat harga diri Anda setara dengan kritikan tersebut.
5. Beriman kepada Allah, dan beramal salih adalah kehidupan yang baik dan bahagia.
6. Barangsiapa menginginkan ketenangan, keteduhan, dan kesenangan, maka dia harus berdzikir kepada Allah.
7. Hamba harus menyadari bahwa segala sesuatu berdasarkan ketentuan qadha’ dan qadar.
8. Jangan menunggu terima kasih dari orang lain.
9. Persiapkan diri Anda untuk menerima kemungkinan terburuk.
10. Kemungkinan yang terjadi itu ada baiknya untuk diri Anda.
11. Semua qadha’ bagi seorang muslim baik adanya.
12. Berpikirlah tentang nikmat, lalu bersyukurlah.
13. Anda dengan semua yang ada pada diri Anda sudah lebih banyak daripada yang dimiliki orang lain.
14. Yakinlah, dari waktu ke waktu selalu saja ada jalan keluar.
15. Yakinlah, dengan musibah hati akan tergerak untuk berdoa.
16. Musibah itu akan menajamkan nurani dan menguatkan hati.
17. Sesungguhnya setelah kesulitan itu akan ada kemudahan.
18. Jangan pernah hancur hanya karena perkara-perkara yang sepele.
19. Sesungguhnya Rabb itu Maha Luas ampunan-Nya.


Sumber : La Tahzan Book "Don't Be Sad"